KESEHATAN LINGKUNGAN
Jurnal Perkuliahan
Senin, 7 November 2022
~Ragil Saputri
(2215061022)
A. Kesehatan Lingkungan
Menurut WHO, kesehatan merupakan kesejahteraan fisik mentl dan sosial yang lengkap bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan.
Kesehatan lingkungan berfokus pada faktor-faktor penyebab penyakit termasuk elemen akam, sosial, budaya, dan teknologi tempat tinggal.
Lingkungan yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik yang berhubungan dan saling memengaruhi satu dengan lainnya. Komponen biotik merupakan makhluk hidup, seperti hewan, tumbuhan, dan manusia. Adapun komponen abiotik terdiri atas benda-benda mati, seperti tanah, air, udara, dan cahaya matahari. Kualitas lingkungan biofisik disebut baik jika interaksi antarkomponen berlangsung dengan seimbang.
Karakteristik lingkungan hidup ada 3: adaptasi, makhluk hidup, interaksi
1. Adaptasi adalah upaya makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya dengan tujuan untuk bertahan hidup, sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan mengalami keburukan.
2. Makhluk hidup contohnya makhluk yang mempunyai nyawa seperti: manusia, hewan bahkan virus sekalipun.
3. Interaksi: Namanya lingkungan kehidupan pasti ada interaksi yang terjalin antar manusia dan makhluk lainnya.
Dari Penjelasan diatas untuk mendapatkan karakteristik lingkungan hidup yang sehat maka beberapa ini ciri-ciri lingkungan yang sehat:
1. Kualitas udara yang bersih, segar dan sejuk.
2. Adanya tempat pembuangan sampah.
3. Saluran air yang lancar.
4. Banyak pepohonan.
2. Penyakit Menular
Penyakit yang menular masih menjadi penyebab skitar sepertiga dari semua kematian terkait penyakit.
Gizi yang baik, air bersih, sanitasi yang lebih baik dan inskulasi yang tidak mahal dapat mengakibatkan sebagian besar penyebab kematian tersebut.
a. Dari orang ke orang
Penularan ini terjadi apabila orang sedang mengalami sakit menularkannya ke orang lain. Biasanya ini terjadi saat Anda melakukan kontak dekat dengan orang yang terinfeksi.
Ini adalah metode penularan yang paling sering terjadi pada penyebaran penyakit infeksi. Penularan dari orang ke orang dapat terjadi melalui cairan tubuh, air liur/cairan pernapasan lainnya (droplet), atau sentuhan pada area tubuh yang terkontaminasi virus.Bersin, batuk, berbicara, bahkan tertawa adalah beberapa cara virus atau bakteri keluar dan berpindah ke orang sehat lainnya.
Sakit apa pun bisa saja membawa kuman penyebab penyakit dan menularkannya kepada orang lain.
b. Hewan ke manusia
Penyakit yang menular dari hewan ke manusia disebut dengan penyakit zoonosis. Penyakit ini umumnya menular lewat gigitan hewan atau konsumsi dagingnya.
Tak hanya hewan liar, binatang peliharaan Anda juga berpotensi membawa mikroorganisme penyebab penyakit. Membersihkan kotoran hewan yang tidak tepat juga dapat menambah risiko penyebaran penyakit ke manusia.
c. Ibu ke bayi
Penularan penyakit dapat terjadi dari ibu ke bayinya, baik saat masih hamil, proses kelahiran, ataupun menyusui. Beberapa kuman penyakit dapat berpindah dari tubuh ibu ke sang anak lewat plasenta, dan menyebabkan penyakit kongenital (bawaan lahir).
Sementara itu, beberapa penyakit juga diketahui dapat ditularkan dari ibu ke anaknya saat proses kelahiran, seperti HPV atau bakteri penyebab gonore.
Selama proses menyusui, mikroorganisme penyebab penyakit juga bisa menular melalui ASI.
Penularan tidak langsung (indirect contact)

Berikut ini adalah metode penyebaran penyakit secara tidak langsung:
1. Penularan lewat udara (airborne)
Jurnal International Encyclopedia menyebutkan, partikel virus atau bakteri yang kecil (biasanya berukuran 5 mikron atau kurang) dapat menyebarkan penyakit melalui udara (airborne). Salah satu penyakit yang menular melalui udara adalah tuberkulosis.Hal ini biasanya juga akan berpengaruh pada udara di lingkungan sekitar karena biasanya akan terkontaminasi oleh bakteri atau virus. Menjaga sirkulasi udara tetap baik adalah salah satu langkah untuk menghambat penyebaran penyakit.
2. Penularan melalui makanan (foodborne)
Bakteri penyebab penyakit juga bisa menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Bakteri yang paling sering menular melalui makanan di antaranya adalah E. Coli dan Salmonella.
Kemungkinan penyebaran penyakit semakin tinggi apabila makanan tidak diolah dengan baik, seperti memakan daging setengah matang.
Hal ini menyebabkan bakteri yang mengontaminasi tidak sepenuhnya mati dan masih memiliki kemampuan untuk menyebabkan penyakit.
3. Gigitan serangga
Serangga juga bisa menjadi perantara penularan penyakit. Serangga yang menjadi “kendaraan” untuk menyebarkan penyakit disebut dengan vektor.Beberapa contoh penyakit yang menular lewat gigitan serangga, antara lain demam berdarah, malaria, dan penyakit tidur yang dibawa oleh lalat tsetse.
4. Benda yang terkontaminasi
Ketika orang yang sakit berbicara, bersin, atau batuk, droplet (cairan pernapasan atau liur) yang keluar mungkin saja mengenai permukaan-permukaan benda. Beberapa virus atau bakteri diketahui dapat bertahan lama di permukaan-permukaan benda tertentu.
Apabila kita menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi, kemudian menyentuh wajah (mata atau mulut) dengan tangan yang kotor, hal ini berpotensi menularkan penyakit.
Benda-benda yang kerap kali disentuh berpotensi lebih besar untuk menjadi objek perantara penularan penyakit, seperti kenop pintu, pegangan tangga, dan sakelar lampu. Jarum suntik yang digunakan secara bergantian juga punya risiko yang besar dalam penyebaran penyakit, terutama HIV.
10. Pengobatan Konservasi
Pengobatan Konservasi adalah disiplin ilmu yang memahami bagaimana perubahan lingkungan kita mengancam kesehatan manusia serta makhluk makluk alam tempat kita bergantung pada layanan ekologi.
The white fuzz adalah jamur befilamen yang tumbuh subur pada kondisi sejuk dan lembap tempat kelelawar berhibernasi. Pada makhluk hidup yang terinfeksi bisa terjadinya kematiannya 100%.






Komentar
Posting Komentar